Kami sudah satu setengah jam menyusuri kegelapan

“Break dulu cah.”

“Break break break.”

“Masih jauh to puncak e?”

“Aman bentar lagi sampai, tinggal dua belokan.”

Perjalanan tetap akan berlanjut meski kami lelah. Perjalanan dua jam mungkin mudah bagi sebagian orang. Tetapi bagi kami, banyak beristirahat justru semakin baik. Bukan, bukan karena takut lelah. Ada jauh lebih banyak obrolan ketika kami beristirahat daripada saat berjalan.

Berbincang hal hal kecil. Mencetuskan khayalan khayalan. Dan menikmati setiap tetesan keringat.

Jika kau kenal Lingga, kau akan sering mendengarkan petuah petuahnya. Gaya bahasa yang renyah sangat mudah untuk dipahami. Namun, setiap ucapannya seolah terencana, matang.

“Mas, kau tak akan tahu jika kau tak pernah melangkah. Bahkan ketika kau gagal dalam perjalanan, setidaknya kau jadi tahu. Bahwa kau harus melangkah lebih jauh lagi esok hari.” Itu katanya, ketika dia tidak berhasil mencapai puncak gunung Merbabu kala itu.

Lingga pernah mendaki Gunung Merbabu bersamaku dan satu orang temanku dari jaman SMA. Ya, tidak bersama kawan kawan 12 ini. Lingga memutuskan berhenti setelah sampai di padang sabana dua Gunung Merbabu. Aku tidak memaksanya untuk berjalan lebih jauh.

Kali ini, di Gunung Andong dia pasti jauh lebih siap. Badannya yang kecil tetap dengan semangat membawa tas ransel penuh dengan perlengkapan makan dan tidur. Meskipun kami banyak berhenti, perjalanan ini tetap akan sampai puncak. Gunung Andong seharusnya terlalu mudah untuk ditakhlukkan. Seharusnya.

#D49 #odopbatch5 #onedayonepost #tantangancerbungpart5

 

“Besok mau turun jam berapa Buy?”

“Walah, belum sampai puncak udah mikir turun.”

“Ya kan ndak papa to, mikir masa depan. Hahaha”

“Masa depan ku suram koyoke.”

Kami sudah satu setengah jam menyusuri kegelapan. Sudah hampir pukul 9. Menurut hitunganku, kami akan sampai puncak setengah sepuluh. Jam segitu, terlalu sore sebenarnya untuk sampai puncak. Biasanya, kami mencapai puncak jam dua atau tiga pagi, kalau perjalanan lebih jauh.

Lima kali mendaki gunung Andong membuatku hafal dengan setiap tikungannya. Namun, setiap kali kemari selalu ada hal yang menarik, aku tidak pernah bosan.

“Tir, enak mana nanjak Ungaran sama Andong?”

“Ya Andong lah, deket.”

“Lah, apa enaknya jalan deket doang?”

“Capek lah kalo jauh.”

Tiara memang sering mengeluh kalau naik gunung. Padahal dia tahu, semakin banyak mengeluh, berarti semakin mudah lelah. Tetapi, kalau sekalinya dia punya tekad, beeh jalan sendirian dan cepet pun dijalani. Dulu, ketika naik ke Ungaran begitu. Waktu perjalanan turun dia jalan sendiri, bawa tas besar dan cepet banget jalannya. Tapi sambil menggerutu. Hahaha

#D51 #onedayonepost #odopbatch5 #tantangancerbung7

Tito Tito

Ada terlalu banyak informasi di Internet. Noona berusaha merangkumnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *