Berjalan berdua belas memang bukan perkara mudah

“Yok jalan lagi jalan lagi, keburu dingin.”

“Sabar Pin sabar. Hahaha.”

“Puncak tinggal seratus meter ini lho.”

“Kayak pernah ngukur aja dah. Baru juga jalan berapa meter.”

Berjalan berdua belas memang bukan perkara mudah. Apalagi perjalanan di tengah hutan, dengan ditemani sebersit sinar senter kecil ini. Belum jauh dari pedesaan memang, tetapi tetap saja sudah mulai hening. Kami harus memahami satu sama lain, tenaga kami berbeda beda, yang lelah tidak boleh memaksakan diri, dan yang kuat tidak boleh memaksakan ego.

Kami hampir selalu mengawali perjalanan ketika hari sudah malam. Berjalan dalam kegelapan lebih nyaman bagi kami. Dingin, tidak terlalu gerah. Belum lagi, jika kami berjalan setelah jam 7 malam, itu artinya kami tidak perlu berhenti berkali kali untuk Sholat. Waktu istirahat setelah sampai basecamp, sekaligus untuk Sholat Maghrib dan Sholat Isya.

“Pin, kok kamu suka mendaki gunung, trus semangat banget kenapa to?”

“Ya tidak apa apa to. Haha.”

“Yo ndak papa, tapi kok semangat banget gitu.”

“Suka aja.”

“Suka kenapa?”

“Tanpa alasan.”

“Hmmm”

Namanya Pipin Dharmawan, satu satunya lelaki di antara kami yang kuliahnya harus bayar. Memiliki pemikiran pemikiran yang unik, berbeda dengan yang lain.

“Trus setelah muncak, apa yang kamu dapetin Pin?”

“Kenikmatan kepuasan eksistensi.”

Mbahmuuu”

“Beneran Lho, esok lusa, bakalan aku ceritakan kepada anak cucuku.”

#D49 #onedayonepost #odopbatch5 #cerbungpart4

Tito Tito

Ada terlalu banyak informasi di Internet. Noona berusaha merangkumnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *